Pinang
Bentuknya seperti kerucut pendek dengan ujung membulat, pangkal agak datar dengan suatu lekukan dangkal, panjang 15-30 mm, permukaan luar berwarna kecoklatan sampai coklat kemerahan, agak berlekuk-lekuk menyerupai jala dengan warna yang lebih muda. Pada bidang irisan biji tampak perisperm berwarna coklat tua dengan lipatan tidak beraturan menembus endosperm yang berwarna agak keputihan
Konon, tradisi tersebut telah dimulai oleh rumpun bangsa Melayu sejak kira-kira 500 tahun sebelum masehi. Kebiasaan itu terdapat di beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Srilangka, termasuk Indonesia. Namun, kebiasaan tersebut lambat-laun makin pudar seperti halnya di negara kita.
Terdapat satu hal yang perlu diperhatikan dalam kebudayaan menyirih ini. Salah satu bagian yang digunakan untuk menyirih, yaitu pinang (Areca Catechu), diyakini memiliki beberapa manfaat yang berguna bagi dunia kesehatan. Khasiat biji buah pinang dapat digunakan untuk penyembuhan berbagai penyakit, seperti penyakit cacingan, kudis, disentri, difteri, batu ginjal, sariawan, dan mimisan.
Menurut penelitian para ahli, yang dikutip oleh ”The Merck Index”, khasiat yang diberikan oleh biji pinang tersebut berasal dari zat-zat yang terkandung dalam biji pinang. Salah satunya adalah Arecoline yang merupakan sebuah ester metil-tetrahidrometil-nikotinat yang berwujud minyak basa keras. Dulu, zat tersebut digunakan dalam bentuk arecolinum hydrobromicum yang berfungsi untuk membasmi cacing pita pada hewan seperti unggas, kucing, dan anjing, sebelum ditemukannya obat cacing sintetik, seperti piperazine, tetramisole, dan pyrantel pamoate.
Senyawa lain yang terkandung dalam biji pinang adalah Arecaidine atau arecaine, Choline atau bilineurine, Guvacine, Guvacoline, dan Tannin dari kelompok ester glukosa yang menggandeng beberapa gugusan pirogalol. Sifat astringent dan hemostatik dari zat tannin inilah yang berkhasiat untuk mengencangkan gusi dan menghentikan perdarahan.
No comments:
Post a Comment